Diberdayakan oleh Blogger.
RSS


MENGAGUMI TANPA DI CINTA

          “Dia udah punya pacar Wi” kata Nana memberiku informasi tentang Iqbal, lelaki yang aku kagumi. “Kamu sih kenapa nggak berani menyatakan perasaan lebih dulu, jadi udah ada orang yang mendahulia kamu kan?” lanjut Nana. Aku tahu mengagumi seseorang itu beresiko besar, tapi apa salahnya jika aku mencintai seseorang?. Apa salah jika aku mengagumi seseorang?. Sesungguhnya aku sadar ini hal bodoh, bahkan aku merasakan rasa pahit dari ini, menyimpan perasaan sendiri tanpa bisa menggungkapkannya. Senang, sedih, kecewa kurasakan sendiri karena perasaan cinta ini hanya aku yang merasakannya.
          Aku bukan wanita kuat yang sanggup menahan ini sendiri. Aku juga bukan wanitahebat yang berani mengakui perasaanku padanya. Aku yakin Tuhan pasti punya rencana lain untukku yang lebih indah, tapi aku harus bisa merubah keadaan agar aku bisa menikmati perasaan ini bukan hanya sendiri tetapi juga dengannya.
          Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah, setelah libur kenaikan kelas. Aku naik ke kelas XI dan masuk program IPA. Hari pertama setelah liburan, berjalan seperti biasanya, berkutat dengan rumus sepanjang hari. Setelah aku mendengar berita itu tadi pagi, aku langsung ingin pulang setelah bel berbunyi. Sempat aku mencari keberadaannya. Namun, aku tidak melihat sosok lelaki yang tegap, gagah, dan berkarisma itu. Dia adlah seseorang yang memiliki wibawa yang mampu membuatku terkagum-kagum padanya. Prestasinya disekolah pun tak diragukan, dia juga sangat dalam berbagai organisasi dan sangat ramah kepada semua orang.
          Aku ini bisa disebut sebagai pengagum rahasia atau bahasa pada zaman sekarang biasa disebut secret admirer. Aku hanya bisa memperhatikan dia dari jauh, hanya bisa melihat rutinitasnya dari dunia maya yauti Facebook atau Twitter misalnya.
          Mengagumi adlah ungkapan perasaan yang indahnya tak terlukiskan oleh kata. Memandang ia tersenyum dari jauh saja membuat kita merasa memilikinya. Padahal kita tahu, bahwa dia bukan siapa-siapa kita. Kita juga tak tahu apakah dia sadar kita tengah memandanginya.
          Perasaan kagum boleh dimiliki oleh siapa saja. Perasaan kagum juga boleh diberikan kepada siapa saja, termasuk aku dan kmau. Perasaan ini kadang-kadang membuat kita tidak bisa menjawab pertanyaan hati kita, kenpa kita mengaguminya?. Ya, karena kagum itu adlah suatu yang abstrak, yang memandnag seseorang bukan dari rupa, fisik, atau apa pun yang terlihat dari luar. Namun, kagum itu muncul karena karisma yang dimilik oleh orang yang dikagumi. Seperti aku mengagumi Iqbal. Entah karisma itu wujudnya seperti apa, yang jelas keberadaannya membuat kita merasa semakin ingin mengenal dan terbawa suasana.
          Saat orang yang dikagumi mengalami sakit, sedih, pasti seakan-akan kita ikut merasakannya, padahal kita tidak tahu apa permasalahnnya yang dihadapi oleh orang yang kita kagumi. Namun,lebih dari itu, yang paling menyakitkan adlah saat kita mengagumi seseorang yang tak sadr kita selalu disisinya. Bukan berarti kita selalu dekat dengannya, selalu merasakan luka yang dideritanya, selalu ingin mengatakan “bolehkah aku masuk dalam hidupmu?”, namun bibir ini tak sanggup berkata dan hanya kecewa mendalam yang menutupi akhir cerita.
          Banyak orang yang mengatakan bahwa mengagumi itu hanya menghabiskan waktu. Orang yang tidak mengutarakan kekagumannya adlah orang yang rugi. Tidak!. Menurutku tidak demikian, setiap orang memiliki batas kemampuan masing-masing untuk mengungkapkan hal yang bersifat pribadi, tak semua orang memiliki kapasitas sama dan semua orang memiliki hak untuk tetap menyimpan kekagumannya dan membiarkan sang waktu yang menjawab.
          “Wi yakin nggak akan ikut kita?” Tanya Nana.
          “Ngga Na kalian aja ber-6 dulu maninnya, kali-kali dong main tanpa aku, haha ” balasku. Sebenarnya aku ingin sekali ikut dengan mereka, menghilangkan rasa penat ini dan mungkin saja bisa melupakanku dengan berita buruk yang tadi pagi aku dengar.
          “Kita belanja Wi, kita nonton, yuuuuk” bujuk Nana
          “Nggak Na, aku pengin langsung pulang nih, cape”
          “Yaudah deh, kita pergi dulu ya wi. Byee …”
          “Iya Na, bye… hati-hati J
          Saat perjalan pulang, aku melihat Iqbal sedang jalan berdua dengan pacarnya. Rasa iri dan cemburu pasti selalu ada jika melihat mereka berdua. Perempaun itu yang sekarang menjadi kekasih Iqbal, bernama Ingga. Aku mendengar kabar, bahwa katanya yang menyatakan perasaan duluan itu adalah Ingga, dan pernyataan Ingga diterima oleh Iqbal. Yah …. Lagi-lagi aku menyesal kenapa aku tidak berani untuk menyatakan perasaan ini. Memang, penyesalan itu selalu dating pada akhir. Ini semua sudah menjadi bubur, tidak bisa diubah lagi menjadi nasi. Aku harus menerimanya walau sakit. Tapi aku akan mengingatnya di relung hati yang tergores ini.
          Sekelebat perih menusuk hatiku. Ini juga yang pertama untukku. Ternyata rasanya amat begitu sakit. Diam-diam memperhatikan dan diam-diam juga menyukai sepertinya hal itu tidak pernah tersampaikan dan tak akan pernah punya kesempatan untuk tersampaikan. Tapi satu hal yang dapat aku sadari, ternyata jatuh cinta itu tidak selalu berakhir dengan bahagia.
          Sesampainya dirumah entah kenpa aku tidak ada semangat untuk melakukan kegiatan apapun. Pergi untuk bimbel saja malasnya berlipat ganda dari pada hari libur. Apa ini gara-gara aku melihat Iqbal dengan Ingga?. Aku tak tahu pasti. Malam harinya aku buka-buka buku pelajaran yang akan aku pelajari sebelumnya. Tiba-tiba ada pesan masuk di handphoneku. Dari Nana rupanya.
          “Uwiiiii J. Jangan sedih ya, Dwi Noorbayanti kan cewe strong!!” isi pesan Nana. Aku ingin sekali membalasnya dan bercanda denganya untuk menghilangkan rasa penat ini. Namun, rasa kantuk dan rasa malas melakukan hal apapun mengalahkanya. Akhirnya aku beranjak untuk tidur.
          Apa boleh buat menyerah mungkin bukanlah pilihan yang bijak, menyerah mungkin bukan pilihan yang tepat, namun seolah semua membuat tersadar, memang bukan, bukan aku sebagai pilihan kekasihnya.
          Maafkan aku yang tak pernah bisa untuk menunjukan betapa besar rasa yang ada. Maafkan aku yang tidak pernah bisa untuk menatap mata indahmu ketika bertemu. Bukan bermaksud untuk menghindar ataupun terkesan munafik. Namun, hanya saja rasa ini sungguh terlalu besar. Bahkan, aku tak pernah bisa menguranginya walau hanya sedetik.
          Aku tak pernah berharap jika suatu saat nanti kamu mengetahui betapa perihnya luka ini, karna aku tak pernah ingin membuat kamu bersedih. Aku masih ingat dan selalu teringat saat kamu tersenyum, saat kamu tertawa, bahkan disaat menatapku walaupun hanya sekilas, aku masih selalu teringat. Aku akan selalu mengingat senyum dan tawamu Iqbal. Tak pernah terbersit dalam benakku untuk mengusik harimu dengan menjauh, aku rela untuk melakukannya walau sungguh hal itu tak pernah menjadi bagian dalam hidupmu, Iqbal.
          Aku selalu ingin tahu mengenai kehidupanmu, bahkan setiap harinya aku selalu mencari bagaimana keadaanmu melalu berbagai cara, sudah ku bilang diawal, aku selalu melihat keadaanmu dan duniamu di dalam dunia maya. Bukan bermaksud seperti mata-mata yang terus mengintai kehidupan seseorang, bukan. Buka itu tujuan aku. Aku hanya ingin memastikan keadaanmu baik-baik saja dan selau dalam keadaan bahagia. Tak perduli seberapa sering aku terjatuh, seberapa sering aku menangis, yang aku perdulikan hanyalah bagaimana cara aku untuk menguatkan hatiku untuk tetap bisa melanjutkan kenyataan kehidupan yang terasa perih. Aku rela mengorbankansegalanya, segala kebahagiaan yang aku punya demi kebahagiaanmu. Aku sadar bahwa aku bukan yang terbaik. Namu, aku akan terus berusaha untuk memperlakukan kamu dengan cara yang terbaik. Walau kamu tak memilihku untuk menjadi bagian dalam hidupku.
          Mungkin aku selama ini terkesan acuh ketika kamu berada disekatku, namun kamu tak pernah menyadari bahwa sebenarnya aku sangat senang ketika aku dapat merasakan kehadiranmu. Kau tak pernah tau betapa kencangnya degupan jantung ini. Kamu tak pernah tahu betapa gugupnya aku. Betapa banyak tetesan peluh yang jatuh membasahi permukaan kulitku ketika aku merasakan kehadiranmu. Kamu tak pernah mengetahui betapa tak teganya aku ketika aku mengetahui hatimu terluka karna cinta yang kamu pertahan tak sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Walaupun orang itu bukan aku.
          Aku tak pernah membayangkan betapa bahagianya aku bila nanti, disuatu hari nanti kalian dapat menjadi yang nyata dari hidupku. Karna semua kata tak pernah bisa tertuang dengan kata-kata. Saking indahnya.
          Memang semua manusia didunia ini terlahir dengan indah. Namun, bagiku kamu tetap yang terindah. Iqbal, perlu kamu ketahui, aku pengagum rahasiamu tak pernah bisa melihatmu bersedih, bahkan terluka. Kamu terindah dan akan selalu menjadi yang terindah, Iqbal Fauzi R.

TAMAT

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

read comments